Masalah Keseimbangan pada Liverpool

Oleh: Jonathan Wilson

Bukan perkara sulit untuk melihat dimana permasalahan Liverpool musim ini: mereka tampil luar biasa melawan tim papan atas, namun malah melempem saat menghadapi tim yang berada lebih rendah di klasemen. 

Mereka sudah bermain sebanyak sembilan pertandingan melawan tim-tim tiga besar, menang lima kali dan empat lainnya imbang – rata-rata mendapatkan 2.11 poin per pertandingan. Mereka berhasil membuat empat kali clean sheet, hanya sekali gagal mencetak gol dan memiliki selisih gol 13-7. Tak ada tim lain yang mampu melakukan ini. Chelsea berada di daftar berikutnya setelah mengambil 1.78 poin per pertandingan saat bertemu tim-tim tiga besar. Everton dan Tottenham menjadi tim-tim berikutnya yang mampu mengambil lebih dari satu poin dari tim papan atas tersebut.

Namun saat melawan tim-tim tiga besar dari dasar klasemen, justru ceritanya sangat berbeda. Liverpool hanya berada di urutan kedelapan, dengan rata-rata 2.00 poin per pertandingan dan hanya mampu membuat dua clean sheet saja dari 11 pertandingan tersebut. Menghadapi tim-tim papan tengah, mereka di urutan keenam dengan rata-rata 1.83 poin per pertandingan dan hanya sekali saja membuat clean sheet dari enam pertandingan. Mereka gagal mencetak gol hanya empat kali musim ini, tapi yang mengejutkan adalah hanya satu pertandingan saja dari catatan tersebut didapat saat menghadapi tim peringkat tujuh besar.

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Pola ini mulai berlangsung sejak pekan kedua musim ini. Liverpool bermain away ke Turf Moor menghadapi Burnley dan mereka frustasi dengan strategi lawan yang bermain sangat ke dalam. Kebobolan dua gol di babak pertama, Liverpool justru menyia-nyiakan penguasaan bola. Inilah permasalahannya yang terus saja terjadi. 

Dalam batas tertentu, ini masih bisa diprediksi dan telah menjadi salah satu masalah bagi hampir semua tim papan atas. Liverpool adalah tim yang mengandalkan transisi. Mereka bermain dengan menekan ke atas, berusaha memenangkan bola dengan cepat dan mencoba segera memukul sebelum lawan mendapatkan kesempatan kembali bertahan. Mereka menginginkan pertandingan yang cepat dan menegangkan, mengandalkan kebugaran, kecepatan, organisasi dan kemampuan dalam menguasai lawan mereka.

Masalah datang saat menghadapi lawan yang menolak bermain terbuka. Liverpool adalah tim yang bermain sangat cepat, tapi kecepatan hanya berguna jika mendapatkan ruang. Bermain bertahan dengan menunggu di dalam saat melawan Liverpool, tidak memberikan ruang di belakang barisan pertahanan, melepaskan bola dengan cepat sehingga hanya menciptakan sedikit peluang, Anda akan membuat mereka frustasi. Tentu saja bahaya jika terlalu cepat melepaskan bola, Anda hanya membuat lawan mendapatkan penguasaan bola kembali, pertandingan menjadi permainan menyerang melawan bertahan. Ini akan menjadi proses yang melelahkan bagi tim yang bermain bertahan. Pemain seperti Sadio Mane, Georgino Wijnaldum serta Roberto Firmino mungkin akan tampil bagus saat mendapatkan ruang untuk menyerang, namun mereka seperti dikebiri pemainannya oleh taktik deep-lying defence lawan. Menahan selama 90 menit tim berkualitas seperti itu tentu saja melelahkan, secara fisik maupun mental.

Manchester United berhasil melakukan ini di Anfield pada awal musim, tampil efektif menahan pemain-pemain Klopp di sisi pertahanan sendiri namun hanya mendapatkan sedikit ancaman. Mereka tidak mau mengambil risiko. Back four mereka bermain sangat rapat. Tak ada permainan dengan bola, hanya serangkaian umpan panjang menuju Zlatan Ibrahimovich. Full-back pun tak pernah maju. Dan itu berhasil.

Tapi itu bukanlah yang benar-benar menjadi masalah Liverpool. Mereka menjadi top skor di liga, bersama Arsenal dengan 54 gol. Mereka hanya gagal membuat gol di empat pertandingan saja. Masalah mereka adalah bagaimana bermain melawan tim dengan taktik deep-lying defence seperti yang sudah terjadi. Mereka hanya membuat tujuh kali clean sheet, sama dengan Stoke. Namun inilah keanehan yang nyata: mereka hanya menerima 7.7 tembakan per pertandingan, paling sedikit dari tim manapun. Atau kita lihat dengan cara lain, Liverpool adalah tim dengan pertahanan terbaik di Premier League.  

Itu menunjukkan dua hal. Pertama, dan ini sudah jelas selama beberapa musim, kiper Liverpool tampil tidak cukup baik. Baik Simon Mignolet dan Loris Karius masih rentan membuat blunder, simpelnya, kurang cukup membuat penyelamatan. Namun ada juga masalah dari Liverpool saat menghadapi peluang yang diciptakan lawan. Bayangkan gol-gol khas yang terjadi melawan Liverpool, Anda mungkin berpikir proses itu berawal dari merebut bola lalu melakukan serangan balik dari satu sisi ke sisi lainnya, diakhiri dengan penyerang yang sendirian berhadapan dengan kiper Liverpool. Itu juga sebuah aspek dari permainan menekan mereka: terutama melawan tim yang lebih lemah, atau tim-tim yang bermain cenderung ke dalam, pemain mereka pun bisa ditarik terlalu maju ke depan. Jordan Henderson, yang memiliki musim yang baik, masih belajar bagaimana memainkan peran sebagai deepest-lying midfielder, beberapa kali meninggalkan bek tengah.  

Kelelahan, mungkin, juga menjadi faktor penyebab itu semua. Pemain tidak mendapatkan cukup waktu dalam pemulihan, namun mungkin juga menderika gangguan konsentrasi. Masalah sebenarnya adalah tentang sebuah keseimbangan. Liverpool bersusah payah melawan tim yang tampil sangat bertahan bukan untuk alasan menyerang, tapi untuk alasan bertahan.

 

Sumber Artikel

Artikel Terkait

loading...
Rate this article!